Nasib Satwa Endemik Kalimantan Bergantung Pada Siapa?

| |

Samarinda (30/11/2006). Satwa endemik (khas) Kalimantan hingga saat ini masih belum memperoleh perhatian penuh dari para pihak. Keberadaan satwa endemik Kalimantan, diantaranya Bekantan (Nasalis larvatus), Orangutan (Pongo pygmaeus), Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), dan Rusa Sambar (Cervus unicolor) masih terancam dengan berbagai aktivitas pembangunan. Kawasan-kawasan bernilai penting yang merupakan habitat satwa endemik Kalimantan terus dieksploitasi atas nama kepentingan ekonomi. “Pemerintah sudah saatnya melindungi kawasan bernilai penting, baik secara ekologis maupun yang bernilai penting secara ekonomis dan sosio-kultural bagi komunitas lokal di Kalimantan”, ujar Muhammad Fadli, Direktur Borneo Ecology and Biodiversity Conservation (BEBSiC).

Menetapkan sebuah kawasan sebagai konservasi bukan berarti mengabaikan kepentingan kesejahteraan komunitas lokal dan kepentingan pembangunan, lanjutnya. BEBSiC menilai Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Timur masih belum mengakomodir kepentingan ekologis dan sosio-kultural komunitas lokal, di mana proses penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Timur belum dilakukan bersama dengan rakyat.

Penyelamatan satwa endemik Kalimantan yang tersisa tidak hanya dilakukan dengan penegakan hukum, namun penting juga dilakukan dengan memberikan perlindungan penuh terhadap habitat, termasuk dengan memperhatikan kebutuhan kehidupan komunitas lokal, karena hanya dengan sejahteranya komunitas lokal maka sebuah kawasan habitat satwa akan bisa terjaga dengan lebih baik.

BEBSiC yakin bahwa hingga saat ini nilai-nilai kearifan komunitas lokal masih terjaga, termasuk dalam interaksinya antara kawasan hutan, satwa dan manusia. “BEBSiC melihat bahwa hingga saat ini satwa endemik Kalimantan hanya sekedar sebuah maskot bagi penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional, namun belum ada langkah-langkah nyata yang diambil oleh pemerintah dalam menyelamatkan satwa endemik Kalimantan dan habitatnya”, ujar Muhammad Fadli. Selain itu, BEBSiC memandang perlu dilakukannya evaluasi independen terhadap upaya rehabilitasi dan reintroduksi satwa, khususnya orangutan, yang telah dilakukan lebih dari satu dekade di Kaltim, karena hingga saat ini tidak memberikan hasil yang nyata terhadap upaya keberadaan satwa endemik Kalimantan di alam.

Dalam memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, serta peringatan enam tahun berdirinya BEBSiC, BEBSiC berupaya untuk mengajak masyarakat Kota Samarinda, utamanya pelajar dan mahasiswa untuk bersama berbuat bagi keberadaan satwa endemik Kalimantan dan habitatnya, melalui Lomba Penulisan Esai bertemakan “Satwa Endemik (Khas) Kalimantan”. Dari peserta lomba yang berjumlah 24 orang, yang terdiri dari pelajar SLTP, SLTA, mahasiswa dan masyarakat umum, terlihat bahwa telah semakin banyak pihak yang berkeinginan berbuat sesuatu bagi keberadaan satwa endemik Kalimantan. BEBSiC juga memberikan bibit tanaman Lai (Durio kutejensis), yang merupakan tanaman endemik Kalimantan, kepada para pemenang lomba agar ditanam demi dapat tetap dipertahankan keberadaannya di bumi Kalimantan Timur.

Menyatukan langkah dalam upaya penyelamatan satwa endemik Kalimantan menjadi agenda penting yang harus dilaksanakan di masa mendatang. Tidak hanya oleh masyarakat, namun juga oleh Pemerintah, terutama institusi pemerintah yang memiliki mandat untuk melakukan upaya-upaya penyelamatan kawasan bernilai penting serta satwa endemik Kalimantan dan habitatnya.

Reply

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
More information about formatting options