Monitoring Perburuan dan Perdagangan Burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata)

Monitoring Perburuan dan Perdagangan Burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) di Danau Mahakam, Kalimantan Timur, Indonesia, Tahun 2005-2006

 

BORNEO ECOLOGY AND BIODIVERSITY CONSERVATION

November 2006

Bersama :

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim

Universitas Mulawarman

Universitas Amsterdam

 

 

Monitoring Perburuan dan Perdagangan Burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) di Danau Mahakam, Kalimantan Timur, Indonesia, Tahun 2005-2006.

Oleh :

Gabriella Fredriksson¹, Agoes Soeyitno², Yudistia ABB³, Khasmir 4

¹ Peneliti pertama dari Universitas Amsterdam, ² peneliti kedua dari Borneo Ecology and Biodiversity Conservation (BEBSiC), ³ Peneliti kedua dari Mahasiswa Fakultas Kehutanan Unmul, 4Asisten lapangan.

Lembaga BEBSiC. Jl. Belatuk No. 93 RT.31 Samarinda 75117

Kalimantan Timur. Telp/Fax.0541-200714 email: bebsic@gmail.com http://bebsic.hijaubiru.org

 

Pada tahun 2004 Gabriella Fredriksson dkk, peneliti dari Universitas Amsterdam menemukan adanya kegiatan penangkapan dan perdagangan burung belibis kembang dalam jumlah yang sangat besar di Danau Mahakam, Kalimantan Timur. Populasi belibis kembang di danau Mahakam (Jempang, Melintang, Semayang) serta di danau kecil sekitarnya memiliki jumlah yang besar yang diduga dapat mencapai puluhan hingga ratusan ribu ekor, hal ini dilihat dari jumlah hasil tangkapan dari para penangkap belibis kembang. Jenis burung ini dapat dijadikan konsumsi seperti unggas peliharaan (Itik), sehingga ditangkap dan diperjualbelikan. Untuk menyampaikan hasil temuan tersebut ke publik, pada 22 Maret 2005 bekerjasama dengan Lembaga Borneo Ecology and Biodiversity Conservation (BEBSiC) di Samarinda, menggelar Workshop mengenai "Strategi Konservasi Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) di Ekosistem Danau Mahakam, Kalimantan Timur"

Dalam kajian tersebut di sampaikan, sejak tahun 2001 penangkap burung belibis kembang dari Banjarmasin (Kalsel) mulai masuk ke daerah perairan danau Mahakam untuk melakukan penangkapan dalam jumlah besar dengan tujan komersil dengan menggunakan belibis jinak dan jaring. Pada tahun 2004, terdapat tiga pedagang belibis yang mempekerjakan lebih dari 50 penangkap secara permanen yang berasal dari Banjarmasin. Tidak ada penduduk setempat yang terlibat dalam perdagangan ini. Jumlah belibis yang ditangkap diperkirakan mencapai antara 120.000 sampai 165.000 ekor per tahun. Dari jumlah ini lebih dari 95% dikirim ke Banjarmasin.

Tingkat penangkapan bila melebihi ambang batas berkelanjutan, maka jenis ini diduga akan menjadi punah secara ekologis dalam kurun waktu sepuluh tahun kedepan, hal ini akan merugikan puluhan ribu nelayan yang tergantung pada produktivitas ekosistem Danau Mahakam, karena belibis kembang berfungsi sebagai motor produktifitas danau Mahakam dengan menyebarkan biji-biji rumput serta berkontribusi memberikan nutrisi (kotoran) terhadap ikan.

Belibis kembang merupakan jenis burung yang tidak dilindungi, dan belum adanya larangan atau batasan penangkapan, sehingga secara terus-menerus selalu ditangkap dan diperdagangkan. Kuota penangkapan untuk belibis kembang di Kalimantan Timur belum dibuat.

Salah satu hasil dari kegiatan workshop tersebut adalah penentuan kuota, yang merupakan langkah tepat untuk membatasi jumlah tangkapan satwa ini agar keberadaannya tetap terjaga di alam. Di daerah Papua sekarang juga banyak terdapat burung belibis kembang yang sudah memiliki kuota penangkapan sebesar 500 ekor untuk setiap tahunnya. Dalam pengajuan kuota penangkapan perlu dilakukan inventarisasi populasi, studi daya dukung habitat, dan studi kelayakan tingkat penangkapan berkelanjutan untuk burung belibis kembang di wilayah Danau Mahakam.

Dalam hal ini BEBSiC, lembaga yang bergerak dalam bidang konservasi sumberdaya alam tertarik untuk melakukan kegiatan di atas dengan melibatkan beberapa lembaga lainya baik dari pemerintah dan non pemerintah. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang memerlukan waktu yang panjang dengan kisaran waktu lebih dari satu tahun untuk mengetahui intesitas laju penangkapan dan perdagangan.

 

Tujuan Kegiatan

Tujuan umum dari kegiatan konservasi ini adalah memberikan masukan atau informasi bagi pemerintah dan masyarakat tentang pentingnya keberadaan burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) baik secara sosial, ekonomi, dan ekologi. Upaya rekomendasi kuota penangkapan akan dilakukan sehingga dapat menekan lajunya tingkat perburuan dan perdagangan agar ekosistem danau Mahakam tetap terjaga sebagaimana mestinya.

Tujuan khusus kegiatan ini adalah melakukan identifikasi tingkat laju perburuan dan perdagangan burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) di daerah Danau Mahakam Kalimantan Timur, serta melakukan kajian pendugaan kisaran popolasi, serta daya dukung habitat burung belibis di Danau Mahakam.

 

Hasil Monitoring Tahun 2005-2006

Burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) merupakan jenis burung air yang dapat di konsumsi layaknya seperti Itik yang diternak. Burung ini terdapat dalam jumlah yang besar di kawasan perairan danau Mahakam Kalimantan Timur, yang meliputi; danau Jempang, Semayang dan Melintang, serta danau kecil di sekitarnya. Besarnya permintaan pasar akan daging belibis membuat peluang usaha bagi para penangkap untuk terus memburu dan memperdagangkannya.

Monitoring Perdagangan Burung Belibis Kembang di Danau Mahakam Kalimantan Timur sebelumnya pernah dilakukan pada tahun 2004 oleh Gabriella Fredriksson peneliti dari Universitas Amsterdam Belanda. Kemudian Lembaga BEBSiC meneruskan monitoring dengan melibatkan lembaga lain untuk tahun 2005-2006 dengan total waktu selama 17 bulan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui intensitas besarnya perdagangan serta melakukan kajian mengenai keberadaan belibis kembang di alam serta daya dukung habitat di Danau Mahakam. Monitoring dilakukan secara reguler, dimana pada setiap satu bulanya dilakukan survey lapangan selama satu minggu yang meliputi kunjungan ke tempat penangkap dan observasi keberadaan belibis di danau Mahakam.

Dari Hasil monitoring yang sudah dilakukan, terdapat 4 kelompok penangkap burung belibis, 3 kelompok berasal dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, dan 1 kelompok berasal dari Pulau Lanting Danau Jempang Kalimantan Timur. Para penangkap menangkap belibis dengan menggunakan jaring dan alat pemancing berupa belibis jinak, menggunakan lampu sorot (menyuar), serta pernah melakukan penangkapan dengan menggunakan racun rumput (Herbisida). Jumlah total penangkap burung belibis kembang mencapai 5 sampai 50 orang penangkap. Penangkapan belibis kembang di pengaruhi oleh musim, pada saat musim kemarau jumlah tangkapan lebih besar di bandingkan musim penghujan.

Jumlah belibis kembang yang ditangkap dan diperdagangkan selama 17 bulan pada tahun 2005-2006 berkisar 27.379 ekor. Pada musim kemarau (Juni-Oktober) antara tahun 2005 dan 2006 terjadi penurunan hasil tangkapan yaitu sebesar 42,16% atau sebesar 6018 ekor. Dari hasil obeservasi langsung, ditemukan bukti adanya belibis kembang dalam kandang yang di tampung atau di kumpulkan oleh para pedagang. Jumlah belibis kembang yang tercatat dalam kandang tersebut selama 17 kali kunjungan mencapai 9546 ekor.

Dari 4 kelompok penangkap belibis kembang di danau Mahakam terdapat 2 pengumpul/pedagang yang menerima hasil tangkapan. Distribusi perdagangan belibis meliputi daerah Kalimanatn Timur meliputi Samarinda, Bontang, Sangata, dan Loa Kulu, sedangkan distribusi ke Kalimantan Selatan adalah ke daerah Banjarmasin yang merupakan penerima pasokan paling besar.

 

Reply

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
More information about formatting options