Siaran Pers
Tuna Wisma di Tanah Kelahiran
Submitted by timpakul on Sun, 04/11/2007 - 9:03am. Flora-Fauna | Informasi | Siaran PersTanggal 5 November telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Tak seperti Hari Lingkungan Hidup dan Hari Bumi, hari tersebut tidak diperingati oleh banyak kalangan. Bahkan lebih cenderung dilupakan oleh kalangan pemerintah yang telah membuat penetapannya.
Puspa dan satwa langka (dan dilindungi) selalu digunakan oleh berbagai pemerintah provinsi maupun kabupaten-kota sebagai maskot kebanggaan daerah. Untuk acara pekan olahraga nasional (PON) yang akan diselenggarakan di Kaltim tahun depan, juga menggunakan tiga satwa langka sebagai maskot, yaitu orangutan, pesut dan burung enggang (rangkong). Sayangnya penggunaan satwa (maupun puspa) sebagai maskot, tidak diikuti oleh upaya konkrit perlindungan habitat sebagai rumah berkehidupan bagi puspa dan satwa.
Nasib Satwa Endemik Kalimantan Bergantung Pada Siapa?
Submitted by timpakul on Thu, 30/11/2006 - 2:00pm. Aktivitas | Flora-Fauna | Siaran PersSamarinda (30/11/2006). Satwa endemik (khas) Kalimantan hingga saat ini masih belum memperoleh perhatian penuh dari para pihak. Keberadaan satwa endemik Kalimantan, diantaranya Bekantan (Nasalis larvatus), Orangutan (Pongo pygmaeus), Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), dan Rusa Sambar (Cervus unicolor) masih terancam dengan berbagai aktivitas pembangunan. Kawasan-kawasan bernilai penting yang merupakan habitat satwa endemik Kalimantan terus dieksploitasi atas nama kepentingan ekonomi. “Pemerintah sudah saatnya melindungi kawasan bernilai penting, baik secara ekologis maupun yang bernilai penting secara ekonomis dan sosio-kultural bagi komunitas lokal di Kalimantanâ€, ujar Muhammad Fadli, Direktur Borneo Ecology and Biodiversity Conservation (BEBSiC).
Dephut Harus Tinjau Ulang Kerjasama Dengan BOSF dan TNC
Submitted by timpakul on Wed, 08/11/2006 - 9:22pm. Flora-Fauna | Kebijakan | Siaran PersSamarinda (6/11). Departemen Kehutanan RI harus meninjau ulang kerjasama yang dilakukan dengan dua lembaga konservasi di Indonesia, yaitu Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan The Nature Conservancy (TNC). Dari hasil investigasi yang dilakukan oleh Borneo Ecology and Biodiversity Conservation (BEBSiC), ditemukan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh kedua lembaga tersebut yang mengabaikan kaidah-kaidah konservasi satwa.
"BEBSiC menemukan tingginya angka kematian orangutan di Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan di Samboja-Kaltim, yang dikelola oleh BOSF." ujar Muhammad Fadli, Direktur BEBSiC. Ditambahkannya, TNC sebagai lembaga yang bekerja di isu konservasi di Kaltim, juga melakukan pemeliharaan Orangutan di stasiun risetnya di Berau dengan mengikatkan tali di leher Orangutan.
Hentikan Eksploitasi Satwa
Submitted by timpakul on Sun, 05/11/2006 - 2:00pm. Aktivitas | Flora-Fauna | Siaran PersTanggal 5 November diperingati sebagai Hari Cinta dan Puspa Satwa Nasional. Kecintaan terhadap puspa dan satwa tidak harus ditunjukkan dengan memelihara ataupun melakukan eksploitasi satwa. Tindakan Jaya Ancol yang menggelar pertunjukan satwa merupakan salah satu bentuk eksploitasi satwa.
Pertunjukan satwa yang dilakukan oleh Jaya Ancol telah menyalahi prinsip-prinsip kesejahteraan satwa. Termasuk dengan menggunakan satwa yang dilindungi, yaitu lumba-lumba (termasuk satwa dilindungi dalam PP No. 7 tahun 1999) dan anjing laut (merupakan satwa yang dilindungi oleh IUCN (World Conservation Union), sebuah badan konservasi dunia).
